Dirikan Sumbang Duo Baleh Di Setiap Kelurahan

Wan Rais

264 Kali Dilihat

24

Apr
2019

Wan Rais

24 April 2019

264 Kali Dilihat

Dirikan Sumbang Duo Baleh Di Setiap Kelurahan

Dirikan Sumbang Duo Baleh Di Setiap Kelurahan

Padang—Dalam kondisi moderen saat ini warga Kecamatan Pauh sangat mencintai adat dan Budaya Minangkabau. Hal itu tergambar dalam kegiatan pembinaan kelurahan implementasi “Adat Basandi Syara’ dan Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). Syarak Mangato, Adat Mamakai, Alam Takambang Jadi Guru,” yang dilaksanakan Bagian Kesra Pemko Padang dipenuhi para bundo Kanduang dan Pemuka masyarakat di aula kantor Camat Pauh, Selasa (2/4).

Ratmil, SOS. M.PD dari Dinas Pendidikan Sumbar salah seorang tim pembina ABS-SBK kota Padang menyampaikan kekuatiran generasi muda masa mendatang, hingga sumpah sati bukik Marapalam yang melahirkan filosofi adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah (ABS-SBK) sebagai identitas masyarakat Minangkabau.

Kekuatiran terhadap generasi muda yang lemah Iman, ekonomi, fisik dan lain sebagainya juga terdapat dalam Al-Qur’an surat an-Nisa ayat : 9, yang artinya Artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Sejalan dengan itu Ratmil juga mengutif kalimat ucapan dari Prof. Dr. BJ. Habibi yang mengatakan,“setidaknya ada lima kelemahan yang harus kita hindari, yakni (1). lemah harta, (2). lemah fisik, (3). lemah ilmu, (4). lemah semangat hidup, dan yang sangat ditakutkan adalah (5). lemah akhlak. Hadirin jika lima kelemahan ini melekat pada generasi-generasi kita, saya yakin mereka bukanlah sebagai pelopor pembangunan melainkan sebagai firus pembangunan, penghambat pembangunan, bahkan penghancur pembangunan.”

Kemudian terkait dengan sangsi sumpah sakti bukik Marapalam. Bahwa hidup di minangkabau harus mengikuti dengan segala aturan, norma dan hukum yang berlaku, bak pepatah ‘Dima Bumi dipijak, Disitu Langik dijunjung.’ Sehingga aturan itu haruslah ditanamkan dalam dada setiap orang minangkabau sejak dini. Karena setiap pelanggaran yang dilakukan, akan diangggap sumbang dan mencoreng nama baik keluarga. Efeknya tidak hanya pada orang tua, tapi mamak dan keluarga besar kaumnya akan dianggap jelek, karena tidak bisa mendidik anak kemenakannya.

Sangsinya kata Ratmil,” barang siapa diantara kita atau anak cucu, karib kerabat, handai tolan yang meragukan atau menolak hasil kesepakatan ini akan terkutuk, akan dimakan sumpah biso qawi, kaateh indak bapucuak, kabawah indak baurek, ditangah digiriak kumbang, akan dapek bencana dari Allah yang tak dapek ditolak oleh siapapun”

Terakhir Ratmil juga menjelaskan serta menyarankan agar kelurahan membentuk Sumbang duo Baleh. Apa itu sumbang duo baleh, adalah segala sesuatu yang salah dan melangar ketentuan adat, terutama norma kesopanan. Setiap perempuan adalah calon bundo kanduang. Ditangannya diwariskan dan mewariskan harta pusako milik keluarga. Selain itu, perempuan nanti akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak mereka. Sehingga adab dan nilai sopan santun perempuan haruslah terjaga.

Sumbang duo baleh hal Salah yang tidak boleh dilakukan, sumbang duduak (Sumbang ketika duduk), sumbang tagak (sumbang ketika berdiri), sumbang bajalan (sumbang ketika berjalan), sumbang bakato (sumbang dalam berkata kata), sumbang mancaliak (sumbang dalam melihat), sumbang makan (sumbang ketika makan), sumbang bapakaian (sumbang dalam berpakaian), sumbang karajo (sumbang ketika bekerja), sumbang tanyo (sumbang dalam bertanya), sumbang Jawek (Sumbang dalam Menjawab), sumbang bagaua (sumbang dalam bergaul), dan sumbang kurenah (sumbang dalam bertingkah laku).

Duduak Padusi Minangkabau iyolah basimpuah. ijan sakali-kali duduak baselo cando laki-laki, nan paliang tacelak bana kalau mancangkuang, man congkong atau sabalah lutuik batagakan sarupo urang duduak di lapau. Kok duduak di bangku ku risi, rapek an pao arek-arek manyampiang agak sa layang. Malu awak kok mamakai orok singkek, in dak tahu jo adat kecek urang. Nyampang kok du duak babonceng ijan mangangkang, manjajok di pandang urang. Jikok awak laki-laki ijan duduk ba simpuah lo bantuak anak padusi, duduaklah base lo, tagak an pungguang supayo gagah nampaknyo.# Irwandi Rais