Tanpa Teknologi, Kreatifitas Anak Bisa Mati

Charlie

21 Kali Dilihat

11

Nov
2018

Charlie

11 November 2018

21 Kali Dilihat

Tanpa Teknologi, Kreatifitas Anak Bisa Mati

Sambil memegang handphone (HP), Queen merengek-rengek kepada Bundanya. HP tersebut tiba-tiba mati. Baterainya habis. Maklum saja, gawai android itu sudah sejam lebih digunakan Queen untuk menonton “Youtube”. 

 

Queen termasuk anak yang hiperaktif dan cerdas. Setiap perkataannya tidak seperti umurnya yang masih empat tahun. Orangtuanya pun kerap terheran-heran dengan ucapan Queen. 

 

Setelah ditelisik, rupanya Queen kerap meniru setiap ucapan yang dilontarkan anak remaja yang ditontonnya melalui ‘Youtube”. Ya, setiap membuka aplikasi itu, Queen suka sekali menonton anak-anak bermain dengan alat memasak, mencuci, make-up, dan sebagainya. Perkataan itulah yang kerap ditirunya. 

 

HP sudah dikenal Queen sejak setahun lalu. Rasa ketertarikannya yang tinggi akhirnya membuat kedua orangtuanya luluh, memberikan HP kepada Queen. Hingga kini, Queen ketergantungan dengan alat komunikasi satu itu.

 

Seorang pakar teknologi, Bill Gates memang menyarankan agar anak diberikan HP pada usia di atas 14 tahun. Cukup banyak dampak bagi anak jika terlalu dini diberikan HP. Seperti terganggunya fungsi otak bagian korteks prefontal dalam mengendalikan impuls. Hal ini mengakibatkan anak kehilangan kontrol pada berbagai rangsangan.

Pernyataan Bill Gates ini diperkuat pakar internet safety di Ohio, Jesse Weinberger. Menurutnya, handphone merupakan pengganggu adiktif bagi anak. Tidak akan berpengaruh bagi anak jika hidup tanpa handphone. 

 

Benar apa yang dikatakan masing-masing pakar. Namun begitu, keberadaan HP sebenarnya ada plus dan minusnya. Di samping banyaknya efek negatif, juga ada efek positif. Semua tergantung orangtua dalam membatasi penggunaannya. 

 

HP akan memberi pengaruh cukup besar dalam kreatifitas anak. Anak yang suka bermain gawai akan berbeda dengan anak yang tidak bersentuhan dengan HP. Kalau tidak percaya, silahkan dibandingkan. Anak yang suka bermain gawai akan lebih lincah dalam berbicara dan mencari ide-ide baru dalam bermain. Sebab, anak yang suka bermain HP akan meniru jenis permainan yang telah ditonton untuk kemudian dikombinasikan dengan permainan yang sedang dimainkannya dengan kawan-kawan sebayanya. 

 

Tak dipungkiri juga, saat bermain HP, seorang anak akan pasif. Sibuk berselancar di dunia maya. Memang perlu pengawasan bagi orangtua dalam penggunaan gawai. Mesti dibatasi dan tidak boleh berlama-lama. Sebab, akan mematikan rasa sosial dan kepeduliannya yang masih tinggi.

 

Tidak saja menggunakan HP, anak juga mesti diajarkan mengoperasikan komputer sejak dini. Sebab, ke depan, anak generasi Z yang tumbuh dan besar di era milenial tidak akan terlepas dari komputer nantinya. Itu pula sebabnya cukup banyak kursus komputer saat ini, seperti DUMET School yang dapat mengajarkan anak mengoperasikan komputer termasuk kursus pemrograman komputer.

 

Pun begitu, orangtua perlu menyiasati penggunaan teknologi pada anak. Tanpa melarang penggunaan HP dan komputer bagi anak. Apalagi anak butuh kebebasan, namun perlu diawasi oleh orangtua. Jika anak sudah mengenal teknologi sejak dini, maka anak akan mudah memasuki era milenial yang terus bergerak dinamis. Dan pastinya, anak tidak akan gagap teknologi (gaptek) karena dikebiri.(Charlie Ch. Legi)